Kasino "online" di macao. - Kasino "online" di macao.

Baccarat Winning Formula Collector's Edition_Football betting company_Blackjack card_Live Baccarat Platform

  • 时间:
  • 浏览:0

Poin penting di sini Sabah Sports Websiteadalah kesadaSabah Sports Websiteran anak mSabah Sports Websiteuda terhadap sejarah bangsa semakin menipis. Sangat diapresiasi apabila ada karya-karya anak muda yang membantu mengarahkan fokus saat ini supaya ketertarikan terhadap sejarah semakin tinggi. Dengan mengenal baik sejarah bangsa, kita sebagai generasi penerus akan memiliki nilai-nilai bangsa  Indonesia yang diperjuangkan oleh para pahlawan. Selain itu, bagi kita para penerus bangsa juga akan terarah dalam melangkah dalam membawa bangsa ini.

Ada kutipan yang sangat mengena sampai saat ini yaitu JAS MERAH yang merupakan singkatan dari Jangan Sekali-Kalinya Meninggalkan Sejarah. Kita harus mulai menyadari bahwa tanpa perjuangan para nenek moyang, kita tidak bisa menikmati kebebasan saat ini. Atau, apakah kita bisa membayangkan apabila saat ini kita masih dijajah? Mungkin kita tidak bisa mengeluarkan pendapat, tidak bisa menikmati kenyamanan dan yang ada kita hanya menjadi orang suruhan bagi bangsa lain.

Bahkan para pahlawan rela mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan. Kitapun tidak tahu berapa sih jumlah pahlawan yang gugur atau tersiksa? Bahkan tidak bisa dihitung berapa yang gugur dan bagaimana tersiksanya mereka demi memperjuangkan Indonesia. Jika kita di posisi mereka dan melihat generasi penerus bangsa seperti sekarang, sedih atau tidak?

Sebenarnya, apasih tujuan nya didirikan museum? Tujuannya adalah untuk mengenang peristiwa masa lalu. Mengenang sejarah bangsa. Mengenang bagaimana perjuangan nenek moyang dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun, bagaimana realita sekarang? Orang-orang datang hanya untuk keperluan feed. Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan dalam bahkan museum tidak tentu dibaca sama sekali. Fokus nya hanya pada dimana tempat yang estetik untuk foto.

Melihat kondisi museum yang masih sangat rapih dan terawat, terbukti bahwa pemerintah setempat pun sebenarnya sudah sangat mendukung pelestarian sejarah. Harga tiket juga sangat terjangkau. Kurang apalagi pemerintah dalam mendukung? Promosi wisata ke museum-museum juga sudah dilakukan. Jadi bisa disimpulkan bahwa sekarang bergantung pada masing-masing pribadi apakah peduli atau tidak dengan sejarah.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Gemerlap gempita selalu terjadi di Bulan Agustus. Seperti yang kita tahu, Bulan Agustus adalah waktu kita sebagai bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memperingati detik-detik proklamasi.  Mengenang jasa-jasa para pahlawan yang membuat bangsa ini terbebas dari belenggu penjajah. Mengucap syukur bahwa negara Indonesia telah 76 tahun berdiri. Lalu sebagai anak bangsa, apa kontribusi kita?

Suatu saat, saya berkunjung ke salah satu museum yang berada di Yogyakarta. Pandangan kosong melihat ke sekeliling. Saya terkesima seketika karena pengunjung di museum tersebut bisa dihitung jari. Ketika saya mulai membayar karcis, saya juga tertegun dengan harganya. Apa kalian bisa menebak? Ya. Harga karcis sangatlah murah, pada saat itu Rp10.000. Nominal tersebut bukankah tergolong sangat murah? Mungkin saat itu sekitar tahun 2016.

Pada saat itu juga, pikiran saya melayang dan sedikit sedih melihat realita yang ada. Bukan berarti saya menyalahkan pengunjung yang sedang asik selfie ya. Melainkan, esensi dari museum sendiri lama kelamaan menjadi hilang karena pengunjung yang datang sama sekali tidak membaca penjelasan yang dipaparkan museum. Yah mungkin positive thinking-nya mereka yang datang sudah paham isi museum tersebut.

Hal yang perlu dipertanyakan dulu sebelum menjawab pertanyaan itu adalah apakah kita sudah mengenal sejarah bangsa kita sendiri? Jujur saja, di masa sekarang agak prihatin dengan beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah. Ketertarikan anak-anak muda terhadap sejarah sudah mulai luntur. Pelajaran sejarah dalam sekolah pun sering dianggap remeh. Apalagi membaca buku, sudah bukan trend saat ini.

Tatapanku beralih kepada taman yang berada di museum tersebut. Taman yang berisi tank-tank yang sudah tidak terpakai. Dilengkapi dengan ornamen-ornamen jaman dahulu serta desain bangunan yang masih dijaga keasliannya. Terlihat juga pengunjung yang datang sedang asyik selfie demi kepentingan feed Instagram tentunya.