Kasino "online" di macao. - Kasino "online" di macao.

Bali Casino_American Lottery Online_Lottery betting

  • 时间:
  • 浏览:0

Tapi perasaaBettinBetting Handicapg Handicapn berdebar itu taBetting Handicapk sebanding dengan rasa penasaran yang muncul kemudian. Apakah jika saya terbang dengan pesawat lainnya perasaan ini akan tetap sama? Setelah desir dalam dada mereda diam-diam saya berjanji. Suatu hari, saya akan melancong dengan pesawat lagi.

Sekadar catatan, gak usah panik dan mikir yang aneh-aneh saat pesawat mengalami turbulensi. Nikmati aja goyangannya. Terakhir, jangan lupa berdoa, ya!

Pertanyaan itu baru terjawab saat saya terbang pertama kalinya ke Kualanamu.

Penerbanganmu gak berlangsung lama, paling cuma beberapa jam. Jadi, kalau gak ada perlu, tetaplah duduk di bangkumu. Pramugari juga akan memperagakan penggunaan seatbelt, jaket pelampung, dan masker oksigen. Perhatikan dengan seksama, itung-itung memandang wajah pramugari yang cantik-cantik. Nah, kamu siap terbang, deh. Enjoy the view!

Beruntung, di antara ribuan supir taksi yang beroperasi di Jakarta, saya bertemu supir yang lumayan gaul. Pria berusia 43 tahun yang gak saya tahu namanya ini bercerita banyak hal tentang kehidupannya serta filosofinya tentang makna lelaki yang mungkin akan saya bahas lain kali. Karena ceritanya, perjalanan saya menuju Halim jadi terasa sangat singkat. Inilah secuil pengalaman yang akan kamu dapat saat traveling: berjumpa orang asing dan berbagi cerita.

Saat penerbangan menuju Kualanamu, bawaan saya hanyalah sebuah keril berukuran 40L yang memuat keperluan untuk traveling selama 5 hari. Cukup ringkas, ‘kan? Sementara, saat balik ke Jakarta, bawaan saya nambah lagi, sebuah kardus kecil yang berisi oleh-oleh untuk teman-teman kerja saya di Hipwee. Bawaan saya yang segitu masih bisa masuk ke dalam kabin, kok. Jadi saya gak perlu repot ngantre di conveyor belt untuk mengambil barang yang dititipkan di bagasi pesawat.

Pengen kursi yang enak? Bagian tengah di belakang sayap adalah favorit saya. Pemandangannya keren dan goncangan saat trubulensi gak begitu terasa. Oh iya, kamu gak harus memegang bukti fisik tiket untuk bisa check-in, dengan modal foto tiket atau kode booking plus kartu identitas, kamu udah bisa mendapatkan boarding pass dan melenggang ke ruang tunggu keberangkatan.

Sampai di Stasiun Senen, matahari masih belum menampakkan ronanya. Macak (bahasa Jawa: bergaya/berlagak) ala flashpacker, saya putuskan untuk naik taksi aja menuju Halim, transportasi yang menurut saya paling cepat dan nyaman. Maklum, persiapan saya memang kurang, gak sempat melakukan riset angkutan kota dari Senen menuju Halim. Namanya juga traveling tanpa rencana. Hehehe.

Tapi, saya gak mau sok-sok kritis dengan bicara tentang tarif pesawat. Menyambung cerita saya soal kereta api yang lalu, kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang penerbangan pertama saya, dan mungkin sedikit tips buat kamu yang juga baru mau terbang untuk pertama kalinya.

Kita memang mendapatkan jatah bagasi gratis di pesawat. Di penerbangan saya, 10 kg untuk bagasi dan 7 kg untuk yang masuk ke kabin. Kalau memang bawaanmu banyak, jangan ragu buat meletakkan sebagian bawaan di bagasi pada saat check-in dan bawa seperlunya aja ke kabin. Tapi, otomatis kamu mesti menunggu barangmu keluar dari bagasi setelah landing.

Setelah rombongan yang berjumlah 11 orang ini lengkap—termasuk seorang balita dan dan seorang bayi, kami bergegas memulai prosesi naik pesawat terbang. Berdasarkan pengalaman saya yang masih ecek-ecek—by the way, sok banget ya saya, baru dua kali naik udah ngasih tips?— ini dia beberapa tahapan dan tips bagi kamu yang hendak naik pesawat terbang untuk pertama kalinya.

Orang-orang yang naik ke pesawat seringkali membawa barang-barang yang serupa. Seperti halnya saat saya akan boarding di Kualanamu, yang bawa kardus putih berisi bika ambon tuh gak cuma saya, sebagian penumpang juga membawa oleh-oleh yang sama. Biar gak gampang tertukar, lebih baik tandai dulu kardus oleh-olehnya dengan namamu sebelum dimasukkan ke bagasi.

Kita boleh berterima kasih pada Wright Bersaudara, yang menurut catatan sejarah telah berjasa menciptakan apa yang kita sebut dengan pesawat terbang. Jargon salah satu maskapai penerbangan yang populer di Indonesia seperti yang saya kutip di atas memang benar adanya. Kini, (hampir) semua orang bisa menumpang pesawat terbang dengan mudah—meski gak begitu murah, apalagi setelah Menteri Perhubungan mengeluarkan kebijakan kontroversial untuk menaikkan tarif batas bawah menjadi 40 persen dari batas atas.

Silakan sebut saya ‘ndeso‘ atau ‘katrok‘, tapi pasti ada kali pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Saya gak malu mengakui kalau penerbangan dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta ke Kualanamu Medan adalah kali pertama saya menumpangi moda transportasi atas awan ini. Tentu ada rasa canggung, bingung, takut, tapi juga sekaligus perasaan senang dan penasaran yang campur aduk.

Sambil menanti anggota rombongan lainnya yang notabene keluarga mempelai perempuan, saya ngobrol dengan si Gun. Saya baru tahu, ternyata, kami masih harus menempuh perjalanan jalur darat kurang lebih 6 jam dari Kualanamu menuju Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, tempat pesta dilangsungkan. Wah, hampir 24 jam dong saya di jalan?

Saat saya pertama kali diajak naik gunung, saya mencoba membayangkan apa yang nanti saya lihat di atas sana. Apakah awan benar-benar ada di bawah kaki kita? Apakah pemandangannya seindah yang dilukiskan? Well, semua ekspektasi saya dimentahkan begitu saja. Puncak gunung ternyata tak seindah yang saya bayangkan berdasarkan gambar-gambar dan cerita-cerita, melainkan jauh lebih indah! Saat kita menjajal sendiri pengalaman itu, kita merasakannya dengan seluruh indera kita—merasakan susah payahnya mendaki, dinginnya udara, dan melihat awan berarak di bawah kaki kita—membuatnya menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

Saya melepaskan headset dan mengganti mode ponsel saya menjadi airplane mode sesaat setelah duduk di kursi penumpang. Ketika pilot mengumumkan pesawat sudah dalam posisi take-off, saya pun terkesiap. Pesawat meluncur dengan kecepatan tinggi, menimbulkan sensasi serupa meluncur di atas roller coaster. Tak lama, pesawat yang saya tumpangi bergerak naik, menyisakan pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit Jakarta yang mengecil dan menjauh dari balik jendela.

“Now everyone can fly.”

Biasanya, kamu dipersilakan memilih tempat duduk di pesawat pada saat check-in di bandara. Nah, biar kamu mendapat posisi yang nyaman di pesawat, pastikan kamu check-in sedini mungkin. Loket check-in biasanya dibuka 2 jam sebelum keberangkatan dan ditutup 30 menit sebelum keberangkatan.

Sesaat setelah memasuki terminal keberangkatan di Halim, saya di-scan x-ray dua kali, yaitu saat hendak menuju loket check-in dan saat menuju ruang tunggu keberangkatan. Sementara, di Kualanamu, saya cuma di-scan sekali aja, yaitu pada saat memasuki ruang tunggu keberangkatan. Hindari membawa senjata, benda tajam, maupun cairan di dalam tas. Kamu ‘kan mau naik pesawat, bukan mau tawuran. Oh iya, toleransi biasanya diberikan petugas buat oleh-oleh berupa souvenir serta makanan dan minuman.

Gerimis menyambut saya di Halim. Saya memutuskan untuk duduk sambil ngopi di kafetaria bandara bareng Gunawan, rekan saya yang sama-sama menuju Kualanamu. Meski namanya Gunawan, dia bukan orang Jawa, apalagi artis. Dia adalah orang Batak asli, adik dari mempelai cowok yang pernikahannya akan saya hadiri besok.

Oh iya, jangan memaksa untuk memasukkan barangmu ke dalam kabin jika petugas memintamu menitipkan sebagian bawaan ke bagasi pesawat pada saat boarding. Soalnya, di kabin kamu tuh berbagi ruang bagasi dengan penumpang lainnya.

‘Kayak apa sih rasanya naik pesawat?’

Dengan ndeso-nya saya mengabadikan pemandangan itu dengan kamera ponsel. Hampir sepanjang perjalanan, mata saya gak beranjak dari pemandangan yang tersaji di depan mata, sampai akhirnya yang terlihat cuma langit dan awan. Beda dengan saat perjalanan kembali ke Jakarta, saya memilih untuk menikmati penerbangan dengan tidur.

Bagasi kabin di pesawat itu gak seberapa luas, serupa dengan rak bagasi di kereta api. Nah, agar kamu gak perlu repot-repot menyusun ulang bagasi kabin yang penuh tas agar bawaanmu bisa muat, mendingan bergegeaslah naik saat kamu sudah dipersilakan boarding. Dengan bagasi kabin yang masih lengang, kamu bakal leluasa meletakkan barang bawaanmu.

Gimana dengan pengalamanmu naik pesawat terbang pertama kali? Apakah serupa dengan yang saya rasakan?